Membina penggalang tidak cukup dengan cerita-cerita tetapi perlu menghayati sendiri, misalnya dengan, :
a. Bermain Sandiwara Khususnya yang bertemakan Kepahlawanan
b. Menimbulkan semangat berkorban dan rasa harga diri.
Dilaksanakan dengan intensif kepada regu-regu penggalangnya sendiri. Dan rasa tanggung jawab ini dapat di tingkatkan dengan memberikan tugas-tugas tertentu, seperti :
a. Menyimpan uang pasikan
b. Memelihara buku kenang-kenangan (Log Book)
c. Mengurus barang-barang pasukan (Inventaris)
d. Membuat acara kegiatan tertentu.
e. Merencanakan acara-acara perkemahan bersama antara regu.
Dewan penggalang merupakan tempat penggemblengan rasa tanggung jawab yang tepat dan juga tempat latihan cara-cara yang demokratis.
a. Permainan-permainan petualangan yang sehat.
b. Sesuatu yang mengandung rahasia.
c. Perlombaan-perlombaan yang memupuk rasa harga diri.
Permainan dalam penggalang merupaka tempat yang baik sekali untuk mengadakan observasi dan sifat-sifat anak didik. Ini penting sekali untuk pendidikan selanjutnya.
BAB IV
Anak Penggalang Yang Baik Adalah …:
b. Mengamalkan Pancasila dan melaksanakan P4.
c. Tidak menghina antar agama yang satu dengan agama yang lain.
d. Berperikemanusiaan.
e. Saling hormat – menghormati, tidak sombong.
f. Dalam memutuskan masalah, harus musyawarah.
g. Mengutamakan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi.
h. Bergotong royong dalam melakukan suatu pekerjaan.
i. Segala tindakan harus dipikir dulu masak-masak.
j. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
k. Membina persatuan dan kesatuan bangsa.
l. Ikut mempertahankan Negara RI (Sesuai dengan kondisinya).
m. Wajib menjaga kewibawaan dalam pemerintahan.
n. Mentaati segala peraturan yang berlaku.
o. Wajib mengamalkan ilmunya.
p. Bisa menjadi pemimpin yang dapat dipertanggung jawabkan.
q. Ikut membantu dalam pelaksanaan pembangunan.
r. Ikut membantu ciptakan masyarakat adil dan makmur.
s. Tidak membedakan bangsa satu dengan bangsa lain.
t. Mengamalkan Trisatya dan Dasa Dharma.
BAB V
Syarat – Syarat yang Perlu Dimiliki Oleh Pembina Penggalang
a. Memahami dan menghayati Pancasila serta setuju terhadap Anggaran Dasar Gerakan Pramuka.
b. Seorang yang kuat keyakinan beragamanya, tetapi tidak fanatik.
c. Mengerti, berpedoman, bertindak sesuai dengan Pancasila, seperti tercantum dalam UUD 1945 serta setia terhadap UUD 1945 dan Pancasila.
d. Seorang yang berkemauan kuat, mau membina dan bergerak di lingkungan anak.
e. Sopan, ramah dan berpendirian tegas serta memiliki kesabaran.
f. Mempunyai kemampuan untuk selalu menambah pengetahuan anak didik.
g. Dapat mengikuti perkembangan / pertumbuhan suasana sekitarnya, masyarakat desa, kota maupun seluruh tanah air Indonesia.
h. Sanggup menyediakan waktu untuk membina.
i. Sebaiknya mereka sudah kawin, syukur sudah mempunyai anak.
j. Mempunyai bahan-bahan banyak dalam cerita, permainan dan nyanyian.
k. Mempunyai kecakapan untuk pekerjaan itu.
l. Mau meng-Upgrade diri (mengikuti khursus-khursus yang diselenggarakan Kwartir Cabang, Daerah maupun Nasional tingkat Mahir, Aplikasi, maupun Ahli ).
m. Mau menerima saran, meskipun dari orang yang lebih muda usia.
n. Mempunyai kecakapan yang praktis dan teknis dalam bidang kepramukaan.
o. Mempunyai tabiat / riwayat hidup yang baik untuk dapat diserahi pekerjaan dan tanggung jawab memimpin anak-anak.
p. Ia harus gemar dalam hidup diluar (perkemahan)
q. Ia harus mempunyai sifat-sifat yang ada pada seorang guru atau pendidik.
r. Ia harus berpandangan luas, tidak sempit/picik.
s. Banyak kreasi dan variasi.
t. Tidak tersangkut dalam peristiwa G 30 S dan Organisasi terlarang.
u. Sebaiknya juga punya pengalaman dalam membina siaga dan penegak akan lebih baik.
v. Bertindak sesuai dengan Satya dan Dharma
BAB VI
Tri Satya dan Dasa Dharma Penggalang
TRI SATYA
Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh :
- Menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta mengamalkan Panca Sila
- Menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat.
- Menepati Dasa Dharma
Dalam Trisatya Penggalang terdapat 6 macam kewajiban, yaitu :
1. Kewajiban Terhadap Tuhan
c. Percaya bahwa Tuhan ada, dan selalu mengagungkan nama-Nya
a. Rajin mendatangi ceramah agama.
b. Bertaqwa kepada Tuhan.
c. Menolong yatim piatu
d. Tidak sombong
e. Bersedia memaafkan orang lain
f. Mau mengakui kesalahannya
g. Suka menolong
h. Menghormati kedua orang tua.
2. Kewajiban Kepada Negara
Hafal Pencasila
Berjalan mentaati peraturan lalu lintas yang ada
Mempelajari UUD
Tahu nama Presiden / Wakil Presiden
Hafal lagu wajib
Menghormati lagu kebangsaan
Sopan santun
Rela berkorban
Mengerti hari-hari besar nasional
3. Kewajiban terhadap pancasila
a. Mengetahui bahwa sebagai dasar Negara
b. Mendalami maksud dan isi Pancasila
c. Percaya kepada Tuhan
d. Ikut menjaga persatuan
e. Ikut memperingati hari kesaktian pancasila
f. Menjalankan kewajiban beragama
g. Hafal pancasila
h. Menghayati sila-sila dalam pancasila
4. Menolong sesama hidup
a. Menghormati orang lain
b. Menuntun orang buta
c. Menunjukkan jalan / tempat kepada si`pa saja yang memerlukan
d. Menengok teman / orang sakit
e. Mengembalikan barang temannya yang hilang / tertinggal
f. Mau menepati kedisiplinan
g. Menjaga nama baik orang lain
h. Membagi kepada peminta / fakir miskin.
5. Mempersiapkan diri membangun masyarakat
a. Belajar dengan tekun
b. Aktif mengikuti kegiatan di masyarakat
c. Bergotong royong
d. Menjaga kebersihan lingkungan
e. Suka menolong pada orang yang wajib di tolong
f. Ikut menunjukkan kebudayaan
g. Bertanggung jawab atas perbuatannya
6. DASA DHARMA PRAMUKA
Pramuka itu :
1. Takwa kepada tuhan Yang Maha Esa
a. Beribadah
b. Meluhurkan NamaNya
c. Membiasakan diri berdo’a dari awal sampai akhir kegiatan
d. Memuji kebesaranNya
e. Tidak menduakan Tuhan
f. Mensyukuri rahmatNya
g. Mengagumi ciptaanNya
h. Mempelajari kitab suci
i. Menghormati orang tua
j. Menghormati tempat ibadah
k. Menolong tanpa pamrih
l. Bersikap adil
m. Memberi pertolongan kepada yang membutuhkan
n. Menyayangi sesama
o. Membayar zakat
p. Menjalankan ajaran-ajaran Tuhan
q. Menjauhi laranganNya
r. Tidak membenci orang lain
s. Bersikap jujur
t. Menghayati dan mengamalkan Pancasila
2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia
a. Mengagumi segala ciptaan Tuhan
b. Ikut memelihara kelestarian alam
c. Melindungi kelestarian binatang langka
d. Melindungi binatang yang berguna bagi manusia
e. Tidak menyiksa binatang
f. Bertakwa kepada tuhan
g. Tolleransi beragama
h. Kasih sayang kepada sesama
i. Mencintai sesama hidup
j. Dapat bergaul dengan orang lain dengan baik
k. Memahami penderitaan orang lain
l. Menyayangi sesama hidup
m. Menolong orang lain menurut kemampuan
n. Memerikan dana kepada orang yang memerlukan
o. Rendah hati dengan hormat
p. Ikut usaha menghijaukan tanah yang kosong
q. Memahami manfaat kehidupan alam
r. Menanam tumbuh-tumbuhan yang bermanfaat
s. Tidak merusak hutan
t. Mencintai alam
3. Patriot yang sopan dan kesatria
a. Memahami makna bendera merah putih
b. Mengerti / memahami arti lambang Negara RI
c. Mempelajari adat istiadat bangsa Indonesia
d. Hafal dan khidmad dalam menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya
e. Memahami kepribadian bangsa timur
f. Bersedia untuk berbakti kepada negara
g. Tahu dan mengerti etika pergaulan
h. Berbakti pada orang tua
i. Bersikap sesuai dengan martabat bangsanya
j. Menjunjung tinggi martabat bangsa
k. Bertindak dengan sopan dan kesatria
l. Berani karena benar
m. Siap membela pada kaum yang lemah
n. Tidak bersikap omnistis
o. Menghormati jasa bapak / ibu guru
p. Melestarikan nilai-nilai bangsa indonesia
q. Mempelajarai dan memahami kebudayaan Indonesia
r. Rela berkorban untuk kejayan negara
s. Berdedikasi sesuai dengan profesi
t. Setiap tindakan dapat menjadi teladan orang lain
4. Patuh dan suka bermusyawarah
a. Menghidupkan sistem musyawarah
b. Bersikap adil dalam mengambil keputusan
c. Mau mendengar pandangan orang lain
d. Menghargai pendapat orang lain walau dari orang yang lebih muda
e. Tidak bersikap semau sendiri
f. Bersikap disiplin dalam setiap tindakan
g. Menggunakan waktu seefisien mungkin
h. Tahu menghargai waktu
i. Menepati janji
j. Memenuhi kewajiban yang harus dijalankan
k. Mentaati segala peraturan / keputusan yang sudah disepakati
l. Mentaati peraturan lalu lintas
m. Memahami pentingnya bermusyawarah dalam kehidupan
n. Setia membayar pajak
o. Membangun sistem bergotong royong
p. Mematuhi petunjuk dari orang tua, selama memang benar
q. Melaksanakan hukum yang di tentukan oleh Tuhan
r. Toleransi terhadap sesama
s. Mentaati hukum-hukum yang berlaku dalam masyarakat
5. Rela menolong dan tabah
a. Memberikan pertolongan tanpa pamrih
b. Menolong pada orang yang memerlukan
c. Berjiwa social
d. Rela memberikan sebagian hartanya untuk pihak yang memerlukan
e. Mengutamakan kepentingan orang lain dari pada kepentingan pribadi.
f. Dapat memahami dan memberikan pertolongan menurut kemampuan
g. Tidak pandang bulu dalam memberikan pertolongan
h. Pandtang putus asa
i. Berani karena benar
j. Tidak tergoyahkan imannya dalam kegagalan.
k. Kuat dalam iman
l. Tidak enggan dalam menghadapi kesulitan
m. Menghormati kaum yang lemah
n. Berkemauan keras dan berhati baja
o. Memahami penderitaan orang lain
p. Tabah dalam melakukan sesuatu
q. Berjwa sepi ing pamrih, rame ing gawe.
6. Rajin terampil dan Gembira
a. Giat belajar untuk menuntut ilmu
b. Memahami pentingnya menuntut ilmu untuk hati depan
c. Rajin belajar tanpa mengingat usia
d. Gembira dalam mengerjakan sesuatu
e. Riang dalam mengerjakan sesuatu
f. Memahami arti kerja dalam perkembangan pribari
g. Dapat menghargai waktu
h. Saling bertukar pendapat
i. Rajin berdiskusi
j. Selalu bergembira dalam menghadapi persoalan
k. Selalu melatih keterampilan
l. Pantang putus asa
m. Mengebangkan pribadi sesuai bakat
n. Selalu melatih keterampilan
o. Memahami pentingnya keterampilan bagi kehidupan
p. Mempunyai kreatifitas dalam segala bidang
q. Menghargai kreatifitas ketrampilan orang lain.
r. Mau menerima petunjuk orang lain dalam keterampilan
s. Senang membaca buku-buku tentang keterampilan
7. Hemat cermat dan bersahaja
a. Dapat menghargai waktu
b. Selalu tepat waktu yang di tentukan
c. Selalu menghemat pengeluaran
d. Menggunakan uang secara bijak dan terarah
e. Tidak pemborosan
f. Meneliti barang sebelum membeli
g. Gemar enabung
h. Teliti dan hati-hati dalam setiap tindakan
i. Bertindak bijaksana
j. Dapat menggunakan barang miliknya dengan baik.
k. Berfikir sebelum berbuat
l. Sederhada dalam berpakaian
m. Tidak sombong
n. Tidak asal mengikuti mode
o. Sederhana dalam setiap penampilan
p. Bersahaja dalam kehidupan sehari-hari
q. Mengikuti anjuran pemerintah pola hidup sederhana
r. Berbuat tidak berlebihan
s. Tidak ceroboh
t. Memahami pentingnya keprasahajaan dalam hidup
8. Disiplin brani dan setia
a. Memanfaatkan waktu sebaik mungkin
b. Menepati waktu yang telah di tentukan
c. Belajar dengan tekun
d. Dapat memagi waktu dengan baik
e. Tidak bertindak semau sendiri
f. Memahami pentingnya mendisiplinkan diri
g. Selalu tunduk pada perintah pimpinan
h. Setia terhadap janji
i. Bertaqwa kepada tuhan
j. Setia kepada tugasnya
k. Berani karena benar
l. Berani dan tidak putus asa
m. Bersikap jantan
n. Tabah dalam menghadapi rintangan
o. Berfikir sebelum berbuat
p. Tidak berjiwa kecil
q. Berani berbuat, berani bertanggung jawab
r. Memahami arti berani dalam kehidupan
s. Berani menghadapi tantangan hidup
9. bertanggung jwab dan dapat dipercaya
a. Menyelesaikan tugas dengan baik
b. Mengawali dan mengakhiri suatu tindakan dengan baik
c. Semua tindakan dapat dipertanggung jawabkan
d. Bertaqwa kepada Tuhan
e. Bertanggung jawab terhadap tugasnya.
f. Memahami tugas-tugas yang harus diselesaikan
g. Mengutamakan tugas dari pada yang lain
h. Satu kata dalam tindakan
i. Setia terhadap janji.
j. Memahami arti kepercayaan orang / pihak lain dalam kehidupan
k. Teguh memegang janji
l. Setiap perkataannya dapat dipercaya.
10. Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan
a. Tidak pernah berjanji dusta pada pihak mana saja
b. Yakin bahwa "Ajining diri ana lati"
c. Dapat membedakan baik buruknya perbuatan
d. Tidak pernah berbohong
e. Tingkah laku, pembicaraan dan isi hati merupakan satu perpaduan yang tidak dapat di pisahkan
f. Menghindarkan diri dari sikap jahat
g. Mengehang dalam perkataan kotor
h. Menghindari perbutan jahat
i. Mengusahakan selalu berbuat baik
j. Sopan santun dalam perkataan
k. Menghormati orang lain
BAB VII
i. STRUKTUR ORGANISASI GUGUS DEPAN
j. STRUKTUR ORGANISASI PASUKAN PENGGALANG
BAB VIII
ORGANISASI PASUKAN PENGGALANG
Pendahuluan
Gerakan Pramuka menghimpun anggotanya dalam satuan kwartir. Satuan terdepan dalam pembinaan peserta didik adalah Gugusdepan. Dalam Gugusdepan yang lengkap terdapat Perindukan Siaga, Pasukan Penggalang, Ambalan Penegak, Racana Pandega.
Pasukan Penggalang merupakan tempat pembinaan pramuka berusia 11 sampai 15 tahun yang disebut Pramuka Penggalang.
Pembentukan Pasukan ini bertujuan untuk memudahkannya himpunan, penggolongan, penggerakan dan pengarahan perserta didik dalam pelaksanaan kegiatan pramuka Penggalang untuk mencapai tujuan.
Pasukan Penggalang
1) Pasukan terdiri paling banyak 40 orang Pramuka penggalang
2) Pasukan terdiri dari satuan-satuan kecil yang dinamakan "Regu" yang masing-masing terdiri dari 5 sampai 10 orang pramuka penggalang.
3) Pembentukan regu dilakukan oleh para Pramuka Penggalang sendiri, dan bila diperlukan dapat dibantu oleh para Pembina dan Pembantu Pembina Pramuka Penggalang
Pimpinan Pasukan Penggalang
a. Pasukan Dipimpin oleh seorang Pembina Penggalang, dibantu oleh dua orang Pembantu Pembina. Pembina Penggalang sedikitnya berusia 23 tahun, sedangkan pembantunya sedikitnya berusia 21 tahun.
b. Pembina dan Pembantu Pembina Penggalang putra harus dijabat oleh pria, sedang Pembina dan Pembantu Pembina Penggalang Putri harus dijabat oleh wanita.
c. Regu dipimpin oleh seorang Pemimpin Regu yang dipilih oleh dan dari para anggota regu.
d. Untut
e. Oleh dan dari para pemimpin regu di pilih seorang untuk melaksanakan tugas di tingkat pasukan yang di sebut pemimpin regu utama di panggil pratama.
f. Untuk mendidik kepemimpinan para pramuka penggalang diadakan dewan pasukan penggalang di singkat dewan penggalang. Yang terdiri dari para pemimpin regu, wakil pemimpin regu, pemimpin regu utama, pembina penggalang dan para pembantunya.
Dewan penggalang mengadakan rapat sebulan sekali.
Ketua dewan penggalang adalah pratama sedangkan jabatan penulis dan bendahara dewan penggalang di pegang secara bergiliran oleh para anggota dewan penggalang itu.
Dewan penggalang bertugas mengurus dan mengatur kegiatan pasukan penggalang dan menjalankan keputusan yang di ambil oleh dewan penggalang.
Dalam rapat dewan penggalang,pembina dan pembantunya bertindak sebagai penasehat, pengarah, pembimbing serta mempunyai hak mengambil keputusan terakhir
g. Untuk membina kepemimpinan dan rasa tanggung jawab para pramuka penggalang, diadakan dewan kehormatan pasukan penggalang, yang terdiri dari para pemimpin regu. Pemimpin regu utama, pembina dan para pembantunya.
1) Dewan kehormatan penggalang bersidang dalam hal terjadi peristiwan yang menyangkut tugas dewan kehormatan penggalang.
2) Hasil putusan sidang dan dilaporkan kepada pembina gugus depan.
3) Ketua dan wakil ketua dewan kehormatan dan penggalang adalah pembina penggalang dan pembantunya, sedangkan sekretaris dewan adalah salah seorang pemimpin regu.
4) Dewan kehormatan penggalang berkewajiban untuk menentukan :
a) Pelantikan, pembina TKK, tanda penghargaan, dan lain-lain kepada pramuka penggalang yang berjasa atau berprestasi;
b) Pelantikan pemimpin dan wakil pemimpin regu serta pratama;
c) Tindakan terhadap pelanggaran kode kehormatan;
d) Rehabiitasi anggota pasukan penggalang.
h. Anggota yang dianggap melanggar sebelum diambil tindakan diberi kesempatan untuk membela diri dalam rapat dewan kehormatan.
Tugas Pembina Pasukan
Para pembina satuan mempunyai tugas :
a. Memimpin para pramuka dalam satuan masing-masing
b. Membantu Pembina Gudep dalam rangka pelaksanaan kerja sama dan hubungan timbal balik antara Gerakan Pramuka dengan Orang Tua / Wali Pramuka
c. Memberi laporan kepada pembina Gudep tentang perkembangan satuannya
d. Berusaha meningkatkan kemampuan dan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya
e. Bertanggung jawab kepada Pembina Gudep
Hubungan Pembina dengan Peserta Didik
a. Hubungan antara Pembina dengan peserta didik adalah seperti hubungan antara :
- Ibu dengan anaknya
- Bapak dengan anaknya
- Guru dengan muridnya
- Kakak dengan adiknya
- Sesama sahabat
b. Hubungan antara pembina dengan peserta didik diwujudkan dalam panggilan sebagai berikut :
- Kakak disingkat Kak untuk Pembina Penggalang dan para Pembantunya
Tingkat Kecakapan Untuk Pramuka Penggalang
a. Penggalang Ramu, yaitu tingkatan kecakapan bagi Pramuka Penggalang yang telah memenuhi syarat kecakapan Umum tingkat Penggalang Ramu
b. Penggalang Rakit, yaitu tingkatan Kecakapan bagi Pramuka Penggalang Penggalang yang telah memenuhi syarat kecakapan umum tingkat penggalang Rakit
c. Penggalang Terap, yaitu tingkatan kecakapan bagi Pramuka Penggalang yang telah memenuhi Syarat Kecakapan Umum tingkat Penggalang Terap
BAB IX
M E T O D E
A. METODE
Berbagai macam metode dapat digunakan dalam menyajikan kegiatan untuk Pramuka Penggalang antara lain :
i. Metode Ceritera. Agar perserta didik bersemangat melaksanakan kegiatan, maka kegiatan itu harus dibungkus dengan ceritera. Ceritera ini jangan terlalu fanatis (Khayal), tetapi dicarikan ceritera yang masuk akal, kalau perlu yang berkaitan dengan ceritera rakyat, kepahlawanan, dll.
ii. Metode Pemecahan Masalah, misalnya dengan pemberian surat sandi, teka-teki, gladi tangguh dan sebagainya.
iii. Metode tak terduga (Surprise), yaitu memberi kegiatan yang tidak diberitahukan sebelumnya misalnya pemberian hadiah ulang tahun, menguji kecakapan melalui permainan sehingga yang bersangkutan tidak tahu bahwa ia di uji. Dll
iv. Metode Lomba, Sekali-kali mengadakan lomba antar peserta didik secara perorangan, untuk menggairahkan peserta didik.
v. Metode Kerja Kelompok, yaitu memberikan pekerjaan kepada tiap kelompok / regu yang di pimpin oleh pemimpin regunya, dan para pembina mengawasinya.
vi. Metode Bermain Peran, yaitu peserta didik diminta untuk memerankan suatu peran dalam atraksi api unggun, atau peran seorang tokoh dari suatu ceritera. Dll
vii. Metode Pangkalan, yaitu digunakannya beberapa pangkalan sebagai tempat untuk memberi latihan-latihan tentang beberapa hal sekaligus dalam waktu yang sama.
viii. Metode Belajar Sambil Melakukan, yaitu peserta didik diberi latihan sekaligus mempraktekkannya.
ix. Metode Diskusi, yaitu memperbincangkan suatu masalah dan berusaha memecahkan masalah itu.
B. ALAT LATIHAN
Agar latihan dapat menarik dan tidak menjemukan, selain digunakan berbagai variasi metode dapat pula di gunakan pemakaian berbagai macam alat.
a. Di tinjau dari keasliannya, maka kita dapat membedakan antara benda sesungguhnya dan benda tiruan.
Misalnya peserta diminta untuk melihat binatang yang sesungguhnya di kebun binatang, melihat bintang di langit di malam hari, melihat peninggalan-peninggalan sejarah di museum,dll. Tetapi dapat pula mereka diperlihatkan model saja. Misalnya diperlihatkan tenda tidur, tenda makan, model menara dan jembatan bambu, dll.
b. Alat yang beebentuk gambar, misalnya diperlihatkan dari bebagai macam gambar pesawat terbang, foto dari berbag`i macam bentuk rak piring, atau rak sepatu, Slide tentang kehidupan anak yatim yang berhasil dalam hidupnya, dan sebagainya.
c. Alat yang berbentuk cetakan, misalnya peserta didik diminta untuk membaca surat kabar, majalah, buletin, brosur, surat dan sebagainya. Dapat pula diminta membaca buku-buku perpustakaan.
d. Tidak pula tertutup digunakannya bahan alam, yang ada di sekitarnya, misalnya mencari tanaman yang berguna bagi manusia, membuat herbarium, membuat hasta karya dengan tanah liat atau kayu, membersihkan air sungai menjadi air minum.
e. Perlengkapan Pramuka dan keterampilan, misalnya digunakannya tali, tongkat, peluit, pisau, kompas, peta, bendera morse, alat masak, bola, dll.
f. Barang bekas pun dapat dimanfaatkan untuk latihan Penggalang, misalnya kaleng susu untuk pot tanaman, kaleng-kaleng mentega untuk timba, bungkus rokok untuk hiasan dinding, dll.
C. YANG PERLU DIPERHATIKAN
1. Pembina harus mampu memilih alat dan metodologi yang tepat untuk menyajikan suatu kegiatan dan mampu membuat variasi
2. Usahakan menggunakan alat yang praktis, yang ada di sekitar tempat latihan, mudah diperoleh, mudah dibawa dan sebagainya.
3. Pikirkan agar alat yang digunakan itu siap dipakai pada saatnya dan tidak membahayakan bagi peserta didik.
BAB X
ASAS, DAN DASAR SERTA TUJUAN GERAKAN PRAMUKA
(Dari Anggaran Dasar Gerakan Pramuka Yang Terbaru)
ASAS DAN DASAR
Gerakan pramuka berasaskan Pancasila dan berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945.
TUJUAN
Gerakan Pramukamembina dan mendidik anak-anak dan pemuda Indonesia dengan tujuan agar mereka menjadi :
k. Manusia Berkepribadian, berwatak, dan berbudi luhur, yang :
i. tinggi mental, moral, budi pekerti dan kuat keyakinan beragamanya;
ii. tinggi mkecerdasan dan keterampilannya;
iii. kuat dan sehat jasmaninya.
l. Warga negara Republik Indonesia yang berjiwa Pancasila, setia dan patuh kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna, yang dapat membangun dirinya sendiri serta mampu menyelenggarakan pembangunan bangsa dan negara.
BAB XI
ADMINISTRASI PASUKAN PENGGALANG
Tata Usaha satuan Penggalang :
i. Buku presensi dan buku iuran (kedua macam buku ini dapat dijadikan satu buku, tetapi boleh dan dapat terbagi dua macam buku)
ii. Buku tabungan
iii. Buku acara latihan
iv. Buku catatan rapat (notulen)
v. Buku inventaris
vi. Buku Log (berisi catatan tentang peristiwa peristiwa penting yang mengesankan yang pernah dialami oleh satuan)
vii. Buku Kas (Catatan tentang pemasukan dan pengeluarannya / Penggunaannya)
viii. Buku catatan pribadi (isinya tentang bahan-bahan hasil observasi, watak anak didik, hal-hal yang istimewa, kebaikan dan kekurangan yang ada pada anak didik).
ix. Buku upacara pelantikan.
x. Buku renungan
xi. Buku adat istiadat Pasukan.
Dari buku-buku administrasi itu yang dapat diserahkan kepada anak-anak/pemuda-pemuda yakni :
a. Buku Presensi / iuran
b. Buku kas
c. Buku tambatan rapat (Notulen)
d. Buku inventaris
e. Buku Log
Adapun tentang catatan pribadi itu merupakan buku yang harus dirahasiakan oleh pembina. Kalau karena sesuatu hal, pembina itu pindah atau tidak lagi membina pada satuan itu, buku catatan itu seharusnya diserahkan kepada pembina yang menggantikannya, yang juga harus merahasiakan buku ini.
Contoh DAFTAR ACARA LATIHAN MINGGUAN
No
Acara latihan
Motif latihan
Perlengkapan
Pimpinan
Waktu
Ket
Hari
Tanggal
Jam
:…………….
:…………….
:…………….
Pembina Penggalang
Harsono
DAFTAR ABSENSI & IURAN – TABUNGAN ANAK
No
Nama Anak Didik
Regu
Tanggal
Tanggal
Tanggal
Absen
Iuran
Tabungan
Absen
Iuran
Tabungan
Absen
Iuran
Tabungan
1
Bagus Eko
Banteng
2
Indra
Banteng
3
Prajoko
Banteng
4
Agung
Banteng
5
Purwadi
Banteng
Ket : - Hadir
a Tidak hadir
s sakit
i ijin
t terlambat
DAFTAR OBSERVASI ANAK DIDIK
No
Macam Penilaian
Nama Anak didik yang diobservasi
Surnyoto
Purwanto
Joko
Priyanto
Sulistio
Rohmad
Adam
Adam rx
1
Ibadah
2
Kesopanan
3
Kerajinan
4
Hemat dan teliti
5
Kerjasama
6
Keuletan
7
Kejujuran
8
Keprasahajaan
9
Semangat
10
Tanggung jawab
11
Keberanian
12
Keadilan
13
Kesosialan
14
Kecerdasan
15
Kepribadian
16
Keterampinlan
17
…….
DAFTAR INVENTARIS
No
Nama barang
Jumlah
Penyimpanan
Keterangan
1
Bendera Merah Putih
2 buah
Di tangan pembina
Ukuran 80 x 120 cm
2
Tongkat
16 buah
Di tangan pemimpin regu
Ukuran 30 x 120 cm
3
Pin (patok)
55 buah
Di tangan pembina
4
Sandaran bendera
8 buah
Pada pimpinan regu
Bahan dari besi
5
Tenda
11 buah
Pada pembina
2 robek
6
DAFTAR KETERANGAN PRIBADI
1. Nama Lengkap :.........................................................................
2. tanggal Lahir :.........................................................................
3. tempat Lahir :.........................................................................
4. Alamat :.........................................................................
5. Agama :.........................................................................
6. Nama Orang Tua :.........................................................................
7. Alamat Orang Tua :.........................................................................
8. Pekerjaan :.........................................................................
9. Keterangan orang tua :.........................................................................
10. Nama yang diikuti :.........................................................................
11. Pekerjaan :.........................................................................
12. Jumlah penghuni rumah :.........................................................................
13. Jumlah saudara :.........................................................................
14. Putra yang ke :.........................................................................
15. Saudara yang berkeluarga :.........................................................................
16. Saudara yang belum
Berkeluarga :.........................................................................
17. Nama Adik yang terkecil :.........................................................................
18. Kepandaian Keistimewaan :.........................................................................
19. Hoby :.........................................................................
20. Pernah Menderita Sakit :.........................................................................
21. Pernah Menjadi Anggota
Pramuka :.........................................................................
22. Gugus Depan :.........................................................................
23. Cita-cita setelah lulus
Sekolah :.........................................................................
Jerukwangi,…………………….2010
Dibuat dengan sesungguhnya
(ttd)
(Nama Terang)
BAB XII
PERALATAN LATIHAN
Barang-barang yang minimal diperlukan untukkelancaran latihan Penggalang
m. Tiang bendera dan alat-allatnya (tali, katrol, pin)
n. Bendera Merah Putih
o. Dasa Dharma dan Pancasila
p. Buku Renungan
Secara maksimal barang-barang itu harus di tambah dengan :
1. Tenda dan alat-alatnya (tali, tongkat, lampu, skop)
2. Alat-alat masak dalam perkemahan
3. Kompas, Peta (Kota, Keresidenan)
4. Alat-alat perkebunan (cangkul, sabit, skop, parang, Kampak, dan lain-lain)
5. Alat-alat Hasta Karya Gergaji, triplek, palu, catut)
6. Alat gambar ( Pensil, cat air, cat minyak)
7. Alat Musik (Terompet, harmonika, genderang, gitar, seruling)
8. Alat-alat olahraga (Bola Volly, Bola basket, Bola Kecil)
9. Tali untuk tali temali dan tongkat
10. Alat-alat PPPK
11. Buku-buku bacaan yang bermutu
12. Buku-buku etika
13. Bendera negara-negara tetangga
BAB XIII
PROBLEMATIKA DALAM MEMBINA PENGGALANG DAN CARA MENGATASINYA.
a. Usaha Usha Yang Dapat Dilakukan Anak-Anak Penggalang Untuk Integrasi Dengan Masyarakat.
1) Kerja bakti, perkemahan kerja, penghijauan hutan-hutan gundul, perbaikan jalan-jalan bersama-sama dengan DPU, bantulah pertolongan bencana alam.
2) Pengumpulan dana PMI, pengumpulan dana bencana alam.
3) Pengaturan lalu lintas, pemadam kebakaran, penjaga keamanan / kesehatan suatu perayaan / upacara.
4) Pemeliharaan makam pahlawan, taman-taman kota, kebersihan / keindahan kota.
5) Menolong memperingan pekerjaan rumah tangga dari anggota-anggotanya.
6) Tiap anggota penggalang pada suatu saat disuruh membawa batu / bata merah untuk perbaikan jalan / tempat latihan.
7) Membuat hasta karya, lalu dijual hasilnya dimasukkan dalam kas untuk menambah uang kas untuk keperluan-keperluan dana.
b. Agar Latihan Pramuka Dapat Menarik Anak Dan Pemuda
1) Mengingikutsertakan mereka dalam memimpin latihan.
2) Menampung keinginan-keinginan mereka yang disalurkan lewat Dewan Penggalang untuk kemudian disusun dalam bentuk latihan.
3) Membungkus acara latihand dengan variasi dan diberi selingan antara satu mata acara dengan yang lainnya.
4) Latihan-latihan harus meningkat maju
5) Memberi penghargaan kepada mereka yang giat berusaha serta giat berlatih.
6) Tidak akan mengumumkan kesalahan anak / pemuda di muka teman-temannya.
7) Secepat mungkin melantik anak/pemuda yang telah selesai menempuh SKU demikian juga yang telah mendapat TKK, supaya segera diberikan kepada yang berhak.
8) Setiap kali latihan, berlatih dengan penuh, jangan sampai ada waktu yang tidak diisi (menganggur)
9) Suasana latihan diusahakan dengan penuh gairah, gembira, hidup dan meriah.
c. Untuk menambah kecakapan tehnis pada anak/pemuda, dapat berusaha dengan jalan :
1) Mendatangkan instruktur dari luar untuk keperluan-keperluan itu.
2) Membaca sesuatu uraian tentang kecakapan tertentu secara bersama-sama dalam kelompok-kelompok kecil, kemudian berusaha mempraktekkan.
3) Menugaskan beberapa anak / pemuda untuk mempelajarinya, kemudian menugaskan anak itu untuk melatih teman-temannya sendiri.
4) Secara berkala diserahkan untuk mengadakan latihan sendiri dalam satuannya maupun bersama dengan anggota satuan lain.
d. Usaha-usaha untuk melatih tanggung jawab anak/pemuda dapat dapat ditempuh dengan jalan :
1) Memberikan kesempatan kepada mereka untuk memimpin salah satu acara dalam latihan, bila perlu menugaskan mereka itu.
2) Melaksanakan sistim kerukunan dewan / musyawarah.
3) Memberi objek karya biar mereka merencanakan dan melaksanakan karya itu.
4) Memberi kesempatan kepada mereka untuk turut serta mengawasi menyelenggarakan atau menjadi juri pada suatu perlombaan.
5) Selalu diusahakan agar hasil musyawarah kerja dapat diterapkan yang berhubungan dengan latihan untuk kepentingan satuan.
6) Memberi tugas tiap-tiap latihan tertentu supaya dipraktekkan di rumah dan minggu berikutnya disuruh mengulang dengan teman-temannya.
e. Tindakan-tindakan yang dapat dijalankan dalam menghadapi anak/pemuda yang tidak maju/ tidak memenuhi syarat yang diperlukan dalam mencapai SKU/TKU :
1) Menunjukkan contoh perbandingan dengan teman-temannya yang lain yang dapat berhasil dengan baik.
2) Mendorong semangatnya agar tetap berusaha dan usaha itu supaya dilakukan dengan baik.
3) Tetap memberikan jalan/petunjuk untuk kepentingan pencapaian SKU/TKU.
4) Diberi soal/pekerjaan supaya dikerjakan dirumah dan dipelajari benar-benar.
5) Tetapi kalau mereka telah berusaha sekuat-kuatnya belum juga memenuhi syarat, anak/ pemuda itu harus diluluskan juga.
f. Usaha-usaha dalam bidang keuangan yang digunakan untuk keperluan latihan-latihan.
1) Iuran yang diambil dari anak-anak/pemuda.
2) Donatur yang di dapat dari orang tua atau lewat majelis pembimbing gugus depan.
3) Hasil-hasil dari anak-anak/pemuda itu sendiri, misalnya :
- Uang penjualan dari hasi tanaman satuan
- Uang penjualan dari hasil hasta karya.
- Uang hasil kegiatan satuan (pementasan suatu drama / malam kesenian)
4) Dengan jalan menabung sedikit demi sedikit dan di kumpulkan, diadakan misalnya tiap minggu/bulan dengan sukarela, kemudian uang itu di bankan, bunganya untuk membeli peralatan latihan.
5) Mengadakan arisan apabila nanti ada yang mendapat maka ia di pungut dengan suka rela untuk kas.
g. Usaha-usaha yang dapat dilakukan agar pramuka asuhan saudara menepati kode kehormatan.
1) Salah satu satya atau dharma dikupas/ diterangkan pada waktu latihan.
2) Membuat sebuah karangan prosa atau puisi dengan judul salah satu satya dan dharma, kemudian hasilnya dibaca bersama.
3) Membuat sandiwara berdasarkan salah satu satya / dharma.
4) Secara pribadi menerangkan kepada mereka dengan contoh yang nyata-nyata terjadi.
5) Meresapi betul dan mengamalkan satya dan dharma untuk masing-masing pembina agar dapat dicontoh oleh anak didiknya.
h. Bila ada anak/pemuda yang mundur pelajaran sekolah karena terlalu giat dalam berlatih dan berkumpul dalam gerakan pramuka maka usaha yang dapat dilakukan dalam hal ini adalah :
1) Memberitahukan hal kemunduran ini pada pembantu-pembantunya diberikan tentang langkah-langkah yang telah dikerjakan dan yang akan dikerjakan.
2) Mengharapkan (dalam bentuk nyata mungkin akan berupa instruksi atau perintah yang tegas, agar anak / pemuda jangan aktif dulu dalam latihan pramuka).
3) Keputusan tersebut diatas disampaikan kepada orang tua mereka dan gurunya di sekolah, dengan harapan agar keduanya juga akan lebih baik lagi dalam memperhatikan pelajaran mereka.
4) Menugaskan salah seorang temannya yang lebih maju/pandai (diusahakan yang sekelas), dan yang paling akrab dengan mereka untuk belajar bersama, dalam pengertian akan membimbing mereka itu.
5) Diberi nasihat agar mereka insaf benar jangan sampai mereka ketinggalan pelajaran sekolah, diberi nasehat secara pribadi saja.
BAB XIV
UPACARA DALAM SATUAN PRAMUKA PENGGALANG
a. Macam Upacara dalam pasukan penggalang meliputi :
i. Upacara pembukaan latihan
ii. Upacara penutupan latihan
iii. Upacara pelantikan
iv. Upacara kenaikan tingkat
v. Upacara pemberian tanda kecakapan khusus
vi. Upacara pindah ke golongan penegak
b. Jalannya upacara pembukaan latihan pasukan penggalang adalah sebagai berikut :
i. Pemeriksaan kebersihan pakaian dan kerapian anggota oleh pratama
ii. Regu petugas menyiapkan perlengkapan upacara.
iii. Pratama mengungpulkan anggotanya untuk membentuk angkare di hadapan tiang bendera.
iv. Pratama mengecek petugas-petugas upacara, sesudah beres, kemudian menjemput pembina penggalang.
v. Pembina upacara (pembina penggalang) mengambil tempat di hadapan pasukan, para pembantu pembina berada di belakang pembina upacara dalam bentuk bersaf.
vi. Sesudah pemimpin penghormatan, pratama menyerahkan asukan kepada pembina upacara kemudian kembali ke regunya.
vii. Pengibaran sang merah putih oleh petugas.
viii. Pembina upacara membaca pancasila, ditirukan oleh anggota pasukan.
ix. Pembacaan dhasa darma.
x. Kata pengantar dari pembina upacara tentang tema latihan dan sebagainya.
xi. Pembina upacara memimpin doa menurut agama dan kepercayaannya masing-masing.
xii. Pasukan diserahkan kepada pratama untuk melanjutkan acara.
xiii. Pratama memimpin penghormatan pasukan kepada pembina upacara.
xiv. Pembina upacara mengucapkan terima kasih kepada para pembantunya, terus siap melaksanakan latihan
xv. Pratama membubarkan barisan, terus siap mengikuti kegiatan latihan.
c. Jalannya upacara penutupan latihan pasukan penggalang adalah sebagai berikut :
i. Kerapian setiap anggota
ii. Pratama memanggil anggota pasukan untuk membentuk formasi angkare menghadap tiang bendera.
iii. Pembina penggalang dijemput pratama, kemudian mengambil tempat di depan pasukan, diikuti para pembantu pembina .
iv. Sesudah memimpin penghormatan pratama menyerahkan pasukan kepada pembina upacara, kemudian kembali ke regunya.
v. Petugas bendera menurunkan sang merah putih untuk di simpan. Pembina upacara memimpin penghormatan.
vi. Pengumuman tentang regu petugas upacara untuk latihan yang akan datang, dilanjutkan penyerahan pasukan kepada pratama.
vii. Pembina memimpin doa.
viii. Pratama maju selangkah, lalu memimpin penghormatan pasukan kepada pembina penggalang, kemudian membubarkan pasukan.
ix. Pembina penggalang mengucapkan terima kasih kepada pembantunya, terus bubar.
d. Upacara pelantikan calon penggalang menjadi penggalang dilaksanakan sebagai berikut :
i. Setelah acara berdoa pada calon penggalang akan dilantik diantar oleh pemimpin regunya ke hadapan pembina penggalang, kemudian pengantar kembali ke regunya.
ii. Penggalang yang sudah dilantik maju satu langkah.
iii. Tanya jawab tentang syarat kecakapan khusus antara pembina dan calon yang akan dilantik.
iv. Calon yang akan dilantik berdoa, diikuti oleh anggota pasukan, dipimpin oleh pembina.
v. Sang merah putih dibawa petugas ke sebelah depan dari pembina penggalang.
vi. Calon secara sukarela mengucapkan janji Tri Satya dengan tangan kanannya memegang ujung sang merah putih di tempelkan pada dada kiri tepat dengan jantungnya.
vii. Pada waktu ucapan janji, anggota pasukan menghormat, dipimpin oleh pratama.
viii. Penyematan tanda-tanda disertai nasihat dari pembina penggalang.
ix. Pratama maju selangkah lalu memimpin penghormatan kepada penggalang yang baru dilantik, diteruskan pamberian ucapan selamat dari anggota pasukan.
x. Pemimpin regu menjemput anggotanya yang baru dilantik.
xi. Pembina menyerahkan pasukan kepada pratama untuk meneruskan acara latihan.
xii. Pratama memimpin penghormatan pasukan kepada pembina penggalang.
e. Untuk upacara kenaikan tingkat dari penggalang ramu ke penggalang rakit, atau dari penggalang rakit ke penggalang terap, diatur sebagai berikut :
i. Dilakukan serangkaian dengan upacara pembukaan latihan.
ii. Penggalang yang akan naik tingkat mengambil tempat berhadapan dengan pembina.
iii. Penggalang rakit / penggalang terap maju selangkah.
iv. Tanya jawab tentang syarat kecakapan khusus yang telah diselesaikan, antara pembina dan penggalang yang naik tingkat.
v. Petugas bendera membawa sang merah putih kesebelah kanan depan dari pembina penggalang.
vi. Waktu sang merah putih memasuki tempat upacara, anggota pasukan menghormat, di pimpin oleh pratama atau petugas.
vii. Penggalang yang akan naik tingkat mengulang ucapan janji trisatya, di tuntun oleh pembina penggalang.
viii. Pada waktu trisatya diucapkan, anggota pasukan memberi hormat, dipimpin oleh pratama atau petugas.
ix. Penghormatan pasukan kepada yang baru naik tingkat dipimpin oleh pratama atau petugas, dilanjutkan dengan pemberian selamat dari anggota pasukan, kemudian kembali ke tempat masing-masing, termasuk penggalang yang naik tingkat.
x. Pembina penggalang memimpin dan doa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
xi. Pratama maju selangkah, lalu memimpin penghormatan kepada pembina upacara, kemudian membubarkan barisan.
xii. Pembina mengucapkan terima kasih kepada pembantunya, diteruskan dengan acara latihan.
f. Kepada penggalang yang telah memenuhi syarat kecakapan khusus dalam rangkaian upacara pembukaan latihan dengan cara sebagai berikut:
i. Penggalang akan menerima tanda kecakapan khusus mengambil tempat berhadapan dengan pembina upacara (pembina penggalang)
ii. Para penggalang yang telah memiliki tanda kecakapan khusus maju selangkah.
iii. Tanya jawab tentang syarat-syarat kecakapan khususnya yang dipenuhinya, antara pembina dengan penggalang yang telah menerima tanda itu.
iv. Penyematan tanda kecakapan khusus oleh pembina ucapara, disertai nasihat seperlunya dan diberikan surat keterangan.
v. Pratama atau petugas memimpin penghormatan kepada penggalang yang menerima tanda kecakapan khusus, dilanjutkan dengan pemberian selamat oleh anggota pasukan, kemudian semua kembali ke tempat semula.
vi. Pembina upacara menyerahkan pasukan kepada pratama untuk meneruskan acara.
vii. Pratama maju selangkah lalu memimpin penghormatan kepada pembina upacara.
viii. Pembina upacara mengucapkan terima kasih kepada pembantunya, dilanjutkan dengan acara latihan.
ix. Pratama membubarkan barisan.
g. Bagi penggalang yang berusia 16 tahun harus dipindahkan ke golongan pramuka penegak, dengan cara sebagai berikut :
i. Dilaksanakan dalam rangkaian upacara pembukaan latihan pasukan penggalang dan upacara pembukaan latihan ambalan penegak.
ii. Penggalang yang akan di pindah golongan mengambil tempat berhadapan dengan pembina upacara (pembina penggalang).
iii. Nasihat dan penjelasan dari pembina upacara, bahwa kepindahannya itu bukan karena kecakapannya tetapi karena usia dan perkembangan jiwanya.
iv. Penggalang yang akan pindah golongan minta diri kepada anggota pasukannya.
v. Pembina mengantar penggalang yang bersangkutan ke ambalan penegak.
vi. Serah terima anggota antara pembin` penggalang dan pembina penegak.
vii. Pembina penggalang kembali ke pasukan untuk melanjutkan acara latihan.
viii. Acara penerimaan di ambalan disesuaikan dengan adat yang berlaku di dalam ambalan itu.
ix. Anggota baru diserahkan kepada sangga yang akan menerimanya.
x. Pembina penegak menyerahkan kembali ambalan kepada pradana untuk meneruskan acara latihan.
BAB XV
SYARAT KECAKAPAN UMUM PENGGALANG
b. Penggalang Ramu
i. Rajin dan giat mengikuti latihan penggalang sekurang-kurangnya 6 kali laihan berturut-turut.
ii. Hafal dan mengerti isi dhasa darma dan trisatya.
iii. Dapat memberi salam pramuka dan tahu maksud serta penggunaannya.
iv. Tahu arti lambang gerakan pramuka.
v. Tahu cara menggunakan bendera kebangsaan indonesia, tahu sejarah serta tahu arti kiasan warna-warnanya.
vi. Dapat dengan hafal menyanyikan lagu kebangsaan indonesia raya bait pertama di depan pasukan penggalang atau di depan pendengar lain, dan tahu sikap yang harus dilakukan jika lagu kebangsaan sedang diperdengarkan atau dinyanyikan pada suatu upacara.
vii. Tahu sejarah lagu kebangsaan indonesia raya.
viii. Hafal pancasila dan artinya.
ix. Biasa berbahasa indonesia diwaktu mengikuti pertemuan-pertemuan penggalang.
x. Tahu struktur organisasi dan tanda-tanda pengenal dalam gugus depan.
xi. Dapat berbaris.
xii. Dapat menunjukkan sedikitnya 8 arah mata angin.
xiii. Dapat membaca jam dengan menggunakan kompas.
xiv. Dapat membuat dan menggunakan simpul mati, simpul hidup, simpul anyam, simpul tiang, simpul pangkal, dan dapat menyusuk tali.
xv. Dapat menyampaikan berita secara lisan.
xvi. Dapat mengumpulkan keterangan untuk memperoleh pertolongan pertama pada kecelakaan dan dapat melaporkannya kepada dokter, rumah sakit, pamong praja, polisi atau keluarga korban.
xvii. Selalu berpakaian rapi dan memelihara kesehatan badan.
xviii. Untuk puteri dapat mengatur meja makan atau menghidangkan makanan kecil dan minuman pada tamu.
xix. Untuk putra dapat membuat 2 macam hasta karya dengan macam bahan yang berbeda.
xx. Memiliki buku tabanas, buku tabungan pramuka atau buku tabungan pelajar.
xxi. Setia membayar iuran kepada gugus depannya sedapat mungkin di ambil dari apa yang diperoleh dari usahanya sendiri.
xxii.
b. Untuk penggalang yang beragama Islam :
i. Dapat mengucapkan kalimat syahadat dan tahu artinya.
ii.Mengerti rukun iman dan rukun islam.
iii.Melakukan sholat berjamaah
c. Untuk penggalang yang beragama katholik :
i. Dapat mengucapkan doa harian dan doa rosario dan tahu artinya.
ii. Mengikuti misa kudus dan putra dapat dapat menjadi pelayan misa, putri dapat menghias altar.
iii. Dapat menyanyikan 3 buah lagu gereja.
d. Untuk penggalang yang beragama protestan.
i. Dapat dengan hafal menyanyikan salah satu lagu kristen.
ii. Dapat menceritakan 2 hikayat dari al kitab.
iii. Dapat mengucapkan dan menggunakan doa sederhana pada kesempatan tertentu.
iv. Tahu hari-hari raya kristen.
e. Untuk penggalang yang beragama hindu.
i. Hafal panca malia yadnya.
ii. Hafal sadripu dan sadatatayi.
f. Untuk penggalang yang beragama budha.
i. Dapat melakukan kebaktian agama budha dengan parita pancasila, parita puja dan parita budha nassati.
ii. Hafal vihara gita wajib, tri ratna dan dalam suci waisak.
g. Penggalang Rakit
i. Rajin dan giat mengikuti latihan pasukan sebagai penggalang ramu sekurang-kurangnya 10 kali laihan berturut-turut.
ii. Bersungguh-sungguh mengamalkan dasa dharma dan trisatya.
iii. Tahu struktur dan tanda-tanda dalam gerakan pramuka.
iv. Tahu arti lambang negara republik indonesia.
v. Tahu hari-hari nasional dan sejarahnya, sedikitnya 3 orang pahlawan nasional.
vi. Tahu susunan pemerintahan daerah tingkat II sampai ke desa, dan tahu nama dan alamat kepala desa dan beberapa tokoh masyarakat lain di sekitar tempat tinggalnya.
vii. Pernah ikut serta kerja bhakti gotong royong yang ditugaskan oleh pembinanya, di sekolah, dikampungnya, di tempat ibadah, atau di tempat lain.
viii. Dapat dengan hafal menyanyikan di muka pasukan penggalang atau dimuka pendengar lain, lagu-lagu sang merah putih (ibu sud), bagimu negeri, maju tak gentar, satu nusa satu bangsa, dari barat sampai ke timur, dan sedikitnya satu lagu daerahtempat tinggalnya.
ix. Dapat menyajikan satu macam kegiatan seni budaya.
x. Tahu adat sopan santun pergaulan indonesia.
xi. Dapat memimpin barisan pramuka.
xii. Dapat menerima dan mengirim berita dengan isyarat morse atau isyarat semaphore.
xiii. Dapat memperbaiki kerusakan kecil pada alat rumah tangga atau pakaian.
xiv. Dapat memberi pertolongan pertama pada kecelakaan ringan.
xv. Jika di sekitar tempat tinggalnya ada pesawat telepon tahu cara menggunakannya.
xvi. Tahu bahan-bahan makanan yang bernilai gizi.
xvii. Tahu beberapa macam penyakit menular.
xviii. Memelihara kebersihan salah satu ruangan dan halaman di rumahnya disekolah, tempat ibadah atau di tempat lain.
xix. Melakukan salah satu cabang olah raga atletik atau salah satu cabang olah raga renang.
xx. Dapat memasak makanan dalam perkemahan sedikitnya 5 orang.
xxi. Hemat cermat dengan segala miliknya.
xxii. Memiliki buku tabanas, buku tabungan pramuka atau buku tabungan pelajar, dan sudah menabung secara teratur dalam buku tabungan itu selama sekurang-kurangnya selama 8 minggu sejak menjadi penggalang ramu.
xxiii. Setia membayar uang iuran kepada gugus depannya sedapat-dapatnya dengan uang yang diperolehnya dari usahanya sendiri.
xxiv. Pernah memelihara sedikitnya satu macam tanaman berguna atau sedikitnya satu jenis binatang ternak dalam kurang lebih 2 bulan.
xxv. Dapat membuat peta lapangan dengan sket pemandangan.
xxvi. Sudah pernah berkemah sekurang-kurangnya 4 hari berturut-turut.
xxvii.
1) untuk penggalang yang beragama islam
a) hafal dan dapat membaca doa harian.
b) Tahu riwayat singkat Nabi Muhammad SAW.
2) Untuk penggalang yang beragama katholik
a) Mengetahui siapa kristus.
b) Dapat berdoa dengan kata-katanya sendiri.
c) Dapat menyanyikan lagu-lagu gereja.
3) Untuk penggalang yang beragama protestan.
a) Mengetahui makna doa dan dapat menguraikan beberapa nyanyian yang dikenalnya.
b) Mengetahui pebagian al kitab, dan dapat menguraikan secara singkat isi dari dua buku di dalam perjanjian lama dan perjanjian baru.
c) Hafal dan mengerti hukum dan 10 penyuruhan.
d) Tahu riwayat seorang hamba Allah dalam al kitab.
4) Untuk penggalang yang beragama hindu.
a) Hafal pranavama.
b) Hafal asta brata.
5) Untuk penggalang yang beragama Budha.
a) Dapat melakukan kebaktian hari-hari suci agama budha dan tahu artinya.
b) Hafal parita wajib, terimalah karmamu, dan Guttama waveka vimama gatha.
h. Penggalang terap
i. Rajin dan giat mengikuti latihan pasukan sebagai penggalang rakit sekurang-kurangnya 10 kali latihan.
ii. Tahu arti dan sejarah sumpah pemuda.
iii. Dengan sungguh-sungguh mengamalkan pancasila.
iv. Mengetahui tentang perserikatan bangsa-bangsa.
v. Tahu tempat-tempat penting di kecamatan tempat tinggalnya.
vi. Membuktikan perhatiannya terhadap industri di yang ada di sekitarnya atau melatih diri dalam suatu kerajinan tangan yang berguna.
vii. Sekurang-kurangnya dua kali pernah ikut kerja bakti gotong royong yang ditugaskan oleh pembinanya di sekolah, kampung, tempat ibadah atau di tempat-tempat lain, atau pernah membantu lembaga seperti PMI, LSD, PUSKESMAS, PKK, Karang Taruna atau lain sebagainya.
viii. Dapat menaksir jarak, luas, isi, berat, kecepatan, suhu, dan sebagainya.
ix. Dapat membuat peta pita.
x. Dapat menentukan arah mata angin tanpa menggunakan kompas.
xi. Dapat merencanakan dan mempersiapkan rapat kecil.
xii. Dapat mebuat alat rumah tangga yang sedrhana.
xiii. Dapat memberi pertolongan pertama pada kecelakaan.
xiv. Dapat mengetrapkan pengetahuan tentang kesehatan dan kebersihan kamar mandi, cuci kakus di perkemahan, rumah, atau tempat lain.
xv. Melakukan salah satu cabang olahraga atletik atau salah satu olah raga renang dan cabang olahraga lain, serta mengetahui peraturan permainannya.
xvi. Memiliki buku tabanas, buku tabungan pramuka atau buku tabungan pelajar dan sudah menabung uang secara teratur dalam buku tabungan itu sekurang-kurangnya selama minggu sejak menjadi penggalang rakit, yang sebagian dari pada uang tabungan itu diperolehnya dari usahanya sendiri.
xvii. Setia membayar uang iuran kepada gugusdepannya degan uang yang seluruhnya atau sebagian diperoleh dari usahanya sendiri.
BABXVI
BEBERAPA KECAKAPAN PRAMUKA
A. Bentuk - bentuk barisan
Bentuk Barisan Dalam Gerakan Pramuka
Berdasarkan PP tentang Upacara dalam Gerakan Pramuka bahwa semua upacara dalam Gerakan Pramuka mengandung unsur-unsur pokok tertentu, salah satunya adalah bentuk barisan menurut golongannnya ( S, G, T dan D )
Bentuk barisan yang digunakan oleh peserta upacara ( Pada Upacara Pembukaan dan Penutupan Latihan ) selalu disesuaikan dengan perkembangan jiwa peserta didik. Bentuk barisan tersebut adalah sbb :
1) Bentuk barisan upacara di satuan Pramuka Siaga adalah lingkaran, karena perhatian dan perkembangan jiwanya masih terpusat pada orang tua/ Keluarga atau Pembina.
2) Bentuk barisan upacara di satuan Pramuka Penggalang adalah bentuk angkare, karena perhatian dan perkembangan jiwanya telah mulai terbuka.
3) Bentuk barisan upacara di satuan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega adalah bersaf, karena perhatian dan perkembangan jiwanya sudah terbuka luas.
4) Jika peserta upacara itu terdiri dari dua golongan atau lebih, maka bentuk barisan yang digunakan ditentukan oleh pimpinan upacara atau pengatur upacara sesuai dengan keadaan setempat, Seperi Upacara pindah golongan, upacara peringatan hari besar/ hari Pramuka dll.
B.PBB
Peraturan Baris Berbaris yang digunakan di lingkungan Pramuka ada dua macam yakni Baris berbaris menggunakan tongkat dan tanpa tongkat. Untuk baris berbaris menggunakan tongkat memiliki tata cara tersendiri di lingkungan Pramuka. Adapun baris berbaris tanpa menggunakan tongkat mengikuti tata cara yang telah diatur dalam Peraturan Baris Berbaris milik TNI/POLRI
Apa itu Baris Berbaris ?
1. Baris Berbaris
a. Pengertian
Baris berbaris adalah suatu ujud latuhan fisik, yang diperlukan guna menanamkan kebiasaan dalam tata cara kehidupan yang diarahkan kepada terbentuknya suatu perwatakan tertentu.
b. Maksud dan tujuan
1) Guna menumbuhkan sikap jasmani yang tegap tangkas, rasa disiplin dan rasa tanggung jawab.
2) Yang dimaksud dengan menumbuhkan sikap jasmani yang tegap tangkas adalah mengarahkan pertumbuhan tubuh yang diperlukan oleh tugas pokok, sehingga secara jasmani dapat menjalankan tugas pokok tersebut dengan sempurna.
3) Yang dimaksud rasa persatuan adalah adanya rasa senasib sepenanggungan serta ikatan yang sangat diperlukan dalam menjalankan tugas.
4) Yang dimaksud rasa disiplin adal`h mengutamakan kepentingan tugas di atas kepentingan pribadi yang pada hakikatnya tidak lain daripada keikhlasan penyisihan pilihan hati sendiri.
5) Yang dimaksud rasa tanggung jawab adalah keberanian untuk bertindak yang mengandung resiko terhadap dirinya, tetapi menguntungkan tugas atau sebaliknya tidak mudah melakukan tindakan-tindakan yang akan dapat merugikan.
1. Aba-aba
a. Pengertian
Aba-aba adalah suatu perintah yang diberikan oleh seseorang Pemimpin kepada yang dipimpin untuk dilaksanakannya pada waktunya secara serentak atau berturut-turut.
b. Macam aba-aba
Ada tiga macam aba-aba yaitu :
1) Aba-aba petunjuk
2) Aba-aba peringatan
3) Aba-aba pelaksanaan
1. Aba-aba petunjuk dipergunakan hanya jika perlu untuk menegaskan maksud daripada aba-aba peringatan/pelaksanaan.
Contoh:
a) Kepada Pemimpin Upacara-Hormat - GERAK
b) Untuk amanat-istirahat di tempat - GERAK
2. Aba-aba peringatan adalah inti perintah yang cukup jelas, untuk dapat dilaksanakan tanpa ragu-ragu.
Contoh:
a) Lencang kanan - GERAK
(bukan lancang kanan)
b) Istirahat di tempat - GERAK (bukan ditempat istirahat)
3. Aba-aba pelaksanaan adalah ketegasan mengenai saat untuk melaksanakan aba-aba pelaksanan yang dipakai ialah:
a) GERAK
b) JALAN
c) MULAI
a. GERAK: adalah untuk gerakan-gerakan kaki yang dilakukan tanpa meninggalkan tempat dan gerakan-gerakan yang memakai anggota tubuh lain.
Contoh:
-jalan ditempat -GERAK
-siap -GERAK
-hadap kanan -GERAK
-lencang kanan -GERAK
b. JALAN: adalah utuk gerakan-gerakan kaki yang dilakukan dengan meninggalkan tempat.
Contoh:
-haluan kanan/kiri - JALAN
-dua langkah ke depan -JALAN
-satu langkah ke belakang - JALAN
Catatan:
Apabila gerakan meninggalkan tempat itu tidak dibatasi jaraknya, maka aba-aba harus didahului dengan aba-aba peringatan –MAJU
Contoh:
-maju - JALAN
-haluan kanan/kiri - JALAN
-hadap kanan/kiri maju - JALAN
-melintang kanan/kiri maju -J ALAN
Tentang istilah: “maju”
· Pada dasarnya digunakan sebagai aba-aba peringatan terhadap pasukan dalam keadaan berhenti.
· Pasukan yang sedang bergerak maju, bilamana harus berhenti dapat diberikan aba-aba HENTI.
Misalnya:
· Ada aba-aba hadap kanan/kiri maju - JALAN karena dapat pula diberikan aba-aba : hadap kanan/kiri henti GERAK.
· Ada aba-aba hadap kanan/kiri maju-J@LAN karena dapat pula diberikan aba-aba : hadap kanan/kiri henti GERAK.
· Balik kana maju/JALAN, karena dapat pula diberikan aba-aba : balik kana henti-GERAK.
Tidak dapat diberikan aba-aba langkah tegap maju JALAN, aba-aba belok kanan/kiri maju-JALAN terhadap pasukan yang sedang berjalan dengan langkah biasa, karena tidak dapat diberikan aba-aba langkah henti-GERAK, belok kanan/kiri-GERAK.
Tentang aba-aba : “henti”
Pada dasarnya aba-aba peringatan henti digunakan untuk menghentikan pasukan yang sedang bergerak, namun tidak selamanya aba-aba peringatan henti ini harus diucapkan.
Contoh:
Empat langkah ke depan –JALAN, bukan barisan – jalan. Setelah selesai pelaksanaan dari maksud aba-aba peringatan, pasukan wajib berhenti tanpa aba-aba berhenti.
c. MULAI : adalah untuk dipakai pada pelaksanaan perintah yang harus dikerjakan berturut-turut.
Contoh:
-hitung -MULAI
-tiga bersaf kumpul -MULAI
4. Cara memberi aba-aba
a) Waktu memberi aba-aba, pemberi aba-aba harus berdiri dalam sikap sempurna dan menghadap pasukan, terkecuali dalam keadaan yang tidak mengijinkan untuk melakukan itu.
b) Apabila aba-aba itu berlaku juga untuk si pemberi aba-aba, maka pemberi aba-aba terikat pada tempat yang telah ditentukan untuknya dan tidak menghadap pasukan.
Contoh: Kepada Pembina Upacara – hormat – GERAK
Pelaksanaanya :
· Pada waktu memberikan aba-aba mengahdap ke arah yang diberi hormat sambil melakukan gerakan penghormatan bersama-sama dengan pasukan.
· Setelah penghormatan selesai dijawab/dibalas oleh yang menerima penghormatan, maka dalm keadaan sikap sedang memberi hormat si pemberi aba-aba memberikan aba-aba tegak : GERAK dan kembali ke sikap sempurna.
c) Pada taraf permulaan aba-aba yang ditunjukan kepada pasukan yang sedang berjalan/berlari, aba-aba pelaksanaan gerakannya ditambah 1 (satu) langkah pada waktu berjala, pada waktu berlari ditambah 3 (tiga) langkah.
· Pada taraf lanjutan, aba-aba pelaksanaan dijatuhkan pada kaki kanan ditambah 2 (dua) langkah untuk berjalan / 4 (empat) langkah untuk berlari.
d) Aba-aba diucapkan dengan suara nyaring-tegas dan bersemangat.
e) Aba-aba petunjuk dan peringatan pada waktu pengucapan hendaknya diberi antara.
f) Aba-aba pelaksanaan pada waktu pengucapan hendaknya dihentakkan.
g) Antara aba-aba peringatan dan pelaksanaan hendaknya diperpanjang disesuaikan dengan besar kecilnya pasukan.
h) Bila pada suatu bagian aba-aba diperlukan pembetulan maka dilakukan perintah ULANG !
Contoh: Lencang kanan = Ulangi – siap GERAK
Gerakan Perorangan – Gerakan Dasar
a. Sikap sempurna
Aba-aba : Siap - GERAK. Pelaksanaanya : pada aba-aba pelaksanaan badan/tubuh berdiri tegap, ke dua tumit rapat, ke dua telapak kaki membentuk sudut 60…, lutut lurus paha dirapatkan, berat badan di atas ke dua kaki, perut ditarik sedikit, dada dibusungkan, pundak ditarik sedikit ke belakang dan tidak dinaikkan, lengan rapat pada badan, pergelangan tangan lurus, jari-jari tangan menggenggam tidak terpaksa rapat pada paha, ibu jari segaris dengan jahitan celana, leher lurus, dagu ditarik, mulut ditutup, gigi dirapatkan, mata memandang tajam ke depan, benafas sewajarnya.
b. Istirahat
Aba-aba istirahat ditempat – GERAK
1) Pada aba-aba pelaksanaan, kaki kiri dipindahkan ke samping kiri dengan jarak sepanjang telapak kaki (30cm)
2) Ke dua belah tangan dibawa ke belakang dan dibawah pinggang, punggung tangan kanan di atas telapak tangan kiri, tangan kanan dikepalkan dengan dilemaskan, tangan kiri memegang pergelangan tangan kanan di antara ibu jari dan telunjuk, ke dua tangan dilemaskan, badan dapat bergerak.
Catatan:
a) Pasukan dalam keadaan istirahat di tempat, pemimpin atau atasan lainnya datang untuk memberikan perhatian atau petunjuk-petunjuk, maka atas ucapan pemimpin/atasan dengan menggunakan kata Perhatian pasukan segera mengambil sikap sempurna tanpa mengucapkan kata siap, kemudian mengambil sikap istirahat.
b) Pada kata perhatian, selesai atau sekian, pasukan mengambil sikap sempurna tanpa didahului aba-aba kemudian kembali ke sikap istirahat di tempat.
c) Maksud dari sikap siap terakhir ini adalah sebagai jawaban tanpa suara, bahwa petunjuk-petunjuk yang diberikan akan dijalankan
c. Lencang kanan/kiri : (hanya dalam bentuk bersaf)
Aba-aba : Lencang kanan/kiri - GERAK
Pelaksanaannya:
Gerakan ini dijalankan dalam sikap sempurna.
1) Pada aba-aba pelaksanaan, saf depan mengangkat lengan kanan/kiri ke samping, jari-jari kanan/kiri menggenggam menyentuh bahu kanan/kiri orang yang berada di sebelah kana/kirinya, punggung tangan menghadap ke atas, bersamaan dengan ini kepala dipalingkan ke kanan/kiri tidak berubah tempat masing-masing meluruskan diri
2) Saf tengah dan saf belakang kecuali penjuru, setelah meluruskan ke depan dengan pandangan mata, ikut pula memalingkan muka ke samping dengan tidak mengangkat tangan.
3) Penjuru saf tengan dan belakang mengambil antar ke depan 1 (satu) lengan kanan/kiri ditambah 2 (dua) kepalan tangan dan setelah lurus menurunkan tangan kanan/kiri tanpa menunggu aba-aba.
4) Pada aba-aba tegak-GERAK semua dengan serentak menurunkan lengan dan memalingkan muka ke depan dan berdiri dalam sikap sempurna.
5) Pada waktu pemimpin pasukan memberikan aba-aba lencang kanan/kiri dan barisan sedang meluruskan safnya, Pemimpin pasukan yang berada dalam barisan itu memberikan kelurusan saf dari sebelah kanan/kiri pasukan dengan menitikberatkan pada kelurusan tumit (bukan ujung depan sepatu).
Catatan:
a) Untuk menghindarkan keributan pada waktu mengangkat lengan kanan/kiri, hendaknya lengan diluruskan melalui belakang punggung orang yang berada di samping, kalau jarak 1 (satu) lengan tidak cukup. Dengan demikian dihindarkan gerakan seolah-olah meninju rekannya yang berada di smaping.
b) Kelurusan barisan dilihat dari tumit.
d. Setengah lencang kanan/kiri
Aba-aba : Setengah lencang kanan/kiri - GERAK
Pelaksanaannya:
Seperti pada waktu lencang kanan/kiri, tetapi tangan kanan/kiri di pinggang (bertolak pinggang) dengan siku menyentuh lengan orang yang berdiri disebelahnya, pergelangan tangan lurus, ibu jari di sebelah belakang pinggang, empat jari lainnya rapat pada pinggang sebelah depan (khusus saf depan). Pada aba-aba tegak GERAK dengan serentak menurunkan lengan sambil memalingkan muka ke depan dan berdiri dalam sikap sempurna.
e. Lencang depan (hanya dalam bentuk berbanjar)
Aba-aba : Lencang depan - GERAK
Pelaksanaannya:
1) Penjuru tetap sikap sempurna : nomor dua dan seterusnya meluruskan ke depan dengan mengangkat tangan dengan jarak satu lengan ditambah dua kepalan tangan.
2) Saf depan banjar tengah dan kiri mengambil antara satu lengan ke samping kanan, setelah lurus menurunkan tangan dan memalingkan kepala kembali ke depan dengan serentak tanpa menunggu aba-aba.
3) Banjar tengah/kiri tanpa mengangkat tangan
f. Cara berhitung
Aba-aba : Hitung – MULAI
Pelaksanaannya:
1) Jika bersaf, pada aba-aba peringatan penjuru tetap melihat ke depan, saf terdepan memalingkan mukanya ke kanan.
2) Pada aba-aba pelaksanaan, berturut-turut di mulai dari penjuru menyebutkan nomornya sambil memalingkan muka ke depan.
3) Pengucapan nomor secara tegas dan tepat.
4) Jika berbanjar, pada aba-aba peringatan semua anggota tetap dalam sikap sempurna.
5) Pada aba-aba pelaksanaan mulai dari penjuru kanan berturut-turut ke belakang menyebutkan nomornya masing-masing.
6) Jika pasukan berbanjar/bersaf tiga, maka yang berada paling kiri mengucapkan : LENGKAP atau KURANG SATU/KURANG DUA.
Perubahan Arah
(dalam keadaan berhenti)
a) Hadap kanan/kiri
Aba-aba : Hadap kanan/kiri – GERAK
1) Kaki kiri/kanan diajukan melintang di depan kaki kanan/kiri lekukan kaki kanan/kiri berada di ujung kaki kanan/kiri, berat badan berpindah ke kaki kiri/kanan.
2) Tumit kaki kanan/kiri dengan badan diputar ke kanan/kiri 90°
3) Kaki kiri/kanan dirapatkan kembali ke kaki kanan/kiri.
b) Hadap serong kanan/kiri
Aba-aba : Hadap serong kanan/kiri – GERAK
Pelaksanaannya:
1) Kaki kiri/kanan diajukan ke muka sejajar dengan kaki kanan/kiri
2) Berputarlah arah 45° ke kanan/kiri
3) Kaki kiri/kanan dirapatkan kembali ke kaki kanan/kiri
c) Balik kanan
Aba-aba : Balik kanan/kiri – GERAK
Pelaksanaannya :
1) Pada aba-aba pelaksanaan kaki kiri diajukan melintang (lebih dalam dari hadap kanan) di depan kaki kanan.
2) Tumit kaki kanan beserta badan diputar ke kanan 180°
3) Kaki kanan/kiri dirapatkan kembali ke kaki kanan/kiri.
Catatan:
· Dalam keadaan berhenti pada hitungan ke tiga, kaki dirapatkan dan kembali ke sikap sempurna
· Dalam keadaan berhenti berjalan pada hitungan ketiga, kaki kanan/kiri tidak dirapatkan melainkan dilangkahkan 0,5 langkah dengan cara dihentikan.
d) Cara berkumpul
Aba-aba : 3 bersaf/ 3 berbanjar kumpul - MULAI
Pelaksanannya :
1) Pelatih menunjuk seorang anggota sebagai penjuru dan orang yang ditunjuk mengulangi perintah yang diberikan oleh pelatih.
Contoh:
Sdr.Gatot sebagai penjuru. Aba-aba pelatih : Gatot sebagai penjuru. Oleh orang yang ditunjuk (dalam sikap sempurna) aba-aba diulangi : Gatot sebagai penjuru.
2) Orang yang ditunjuk tadi lari dan berdiri di depan pelatih ± 4 langkah
3) Setelah aba-aba pelaksanaan MULAI diberikan pelatih, maka orang-orang lainnya berlari dan berdiri disamping kiri penjuru serta meluruskan diri seperti pada waktu lencang kanan.
4) Pada waktu berkumpul, penjuru melihat ke kiri setelah lurus, penjuru memberikan isyarat dengan perkataan LURUS, pada isyarat ini penjuru nelihat ke depan, yang lainnya (saf depan) menurunkan lengannya dan kembali ke sikap sempurna.
e) Cara latihan memberi hormat
Aba-aba : Hormat - GERAK
Pelaksanaannya (dengan tutup kepala, keadaan berhenti)
1) Pada aba-aba pelaksanaan, dengan gerakan cepat tangan kanan diangkat ke arah pelipis kanan, siku-siku 15° serong ke depan, kelima jari rapat dan lurus, telapak tangan serong ke bawah dan kiri ujung, jari tengah dan telunjuk mengenai pinggir bawah dari tutup kepala setinggi pelipis.
2) Pergelangan tangan lurus, bahu tetap seperti dalam sikap sempurna, pandangan mata tertuju kepada yang diberi hormat.
3) Jika tutup kepala mempunyai klep, maka jari tengah mengenai pinggir klep.
4) Jika selesai menghormat, maka lengan kanan lurus diturunkan secara cepat ke sikap sempurna.
a) Bubar
Aba-aba : Bubar - JALAN
Pelaksanaannya;
Pemberian aba aba tersebut dilaksanakan dalam keadaan sikap sempurna. Setelah melakukan penghormatan kemudian balik kanan dan setelah menghitung dua hitungan dalam hati, lalu bubar.
b) Jalan di tempat
Aba-aba: Jalan ditempat - GERAK
Pelaksaannya:
Gerakan dimulai dengan mengangkat kaki kiri, lutut berganti-ganti diangkat, paha rata-rata, ujung kaki menuju ke bawah, tempo langkah sesuai dengan langkah biasa, badan tegak, pandangan mata tetap ke depan, lengan dirapatkan pada badan (tidak melenggang)
Dari jalan ke tempat berhenti.
Aba-aba : Henti – GERAK
Pelaksanaannya:
Pada aba-aba pelaksanaan dapat dijatuhkan kaki kiri/kanan,pada hitungan ke dua kaki kiri/kanan diharapkan pada kaki kiri/kanan dan kembali ke sikap sempurna.
c) Membuka/menutup barisan.
Aba-aba : Buka barisan – JALAN
Pada aba-aba pelaksanaan regu kanan dan kiri membuat satu langkah ke samping kanan dan kiri, sedang regu tangah tetap di tempat.
Catatan :
Membuka barisan gunanya untuk memudahkan pemeriksaan.
Tutup barisan
Aba-aba :tutup barisan – JALAN
Pelaksanannya :
Pada aba-aba pelaksanaan regu kanan dan kiri membuat satu langkah kembali ke samping kanan dan kiri, sedang regu tengah tetap ditempat.
Gerakan berjalan dengan panjang tempo dan macam langkah
Macam langkah
Panjangnya
Tempo
1.
Langkah biasa
65cm
120 tiap menit
2.
Langkah tegap
65cm
120 tiap menit
3.
Langkah perlahan
40cm
30 tiap menit
4.
Langkah kesamping
40cm
70 tiap menit
5.
Langkah ke belakang
40cm
70 tiap menit
6.
Langkah ke depan
60cm
70 tiap menit
7.
Langkah di waktu lari
80cm
165 tiap menit
A. MAJU – JALAN
Dari sikap sempurna
Aba-aba : Maju – JALAN
Pelaksanaannya:
1) Pada aba-aba pelaksanaan kaki kiri diayunkan ke depan, lutut lurus, telapak kaki diangkat rata sejajar dengan tanah setinggi ± 15 cm, kemudian dihentakkan ke tanah dengan jarak setengah langkah dan selanjutnya berjalan dengan langkah biasa.
2) Langkah pertama dilakukan dengan melenggangkan lengan kanan ke depan 90°, lengan kiri 30° ke belakang, pada langkah selanjutnya lengan atas dan bawah lurus dilenggangkan ke depan 45°, dan ke belakang 30°.
Seluruh anggota meluruskan barisan ke depan dengan melihat pada belakang leher.
Dilarang keras : berbicara-melihat kanan/kiri
Pada waktu melenggangkan tangan supaya jangan kaku.
B. LANGKAH BIASA
1) Pada waktu berjalan, kepala dan badan seperti pada waktu sikap sempurna. Waktu mengayunkan kaki ke depan lutut dibengkokkan sedikit (kaki tidak boleh diseret). Kemudian diletakkan ke tanah menurut jarak yang telah ditentukan.
2) Cara melangkahkan kaki seperti pada waktu berjalan biasa. Pertama tumit diletakkan di tanah selanjutnya lurus ke depan dan ke belakang di samping badan. Ke depan 45°, ke belakang 30°. Jari-jari tangan digenggam, dengan tidak terpaksa, punggung ibu jari menhadap ke atas.
C. LANGKAH TEGAP
1) Dari sikap sempurna
Aba-aba : Langkah tegap – JALAN
Pelaksanaannya :
Mulai berjalan dengan kaki kiri, langkah pertama selebar setengah langkah, selanjutnya seperti jalan biasa (panjang dan tempo) dengan cara kaki dihentakkan terus menerus tetapi tidak dengan berlebih-lebihan, telapak kaki rapat dan sejajar dengan tanah, lutut kaki tidak boleh diangkat tinggi. Bersama dengan langkah pertama lengan dilenggangkan lurus ke depan dan ke belakang di samping badan, (lengan tangan 90° ke depan dari 30° ke belakang). Jari-jari tangan digenggam dengan tidak terpaksa, punggung ibu jari menghadap ke atas.
2) Dari langkah biasa
Aba-aba : Langkah tegap – JALAN
Pelaksanaannya :
Aba-aba pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kiri jatuh di tanah, ditambah satu langkah selanjtnya mulai berjalan seperti tersebut pasa butir 1.
3) Kembali ke langkah biasa
Aba-aba : Langkah biasa – JALAN
Pelaksanaannya :
Aba-aba diberikan pada waktu kaki kiri jatuh di tanah ditambah satu langkah dan mulai berjalan dengan langkah biasa, hanya langkah pertama…….
Catatan :
Dalam lsedang berjalan cukup menggunakan aba-aba peringatan : Langkah tegap/langkah biasa-JALAN, pada tiap-tiap perubahan langkah (tanpa kata maju).
D. LANGKAH PERLAHAN
1) Untuk bergabung (mengantar jenazah dalam upacara kemiliteran)
Aba-aba : Langkah perlahan maju – JALAN
Pelaksanaannya :
a) Gerakan dilakukan dengan sikap sempurna
b) Pada aba-aba “jalan”, kaki kiri dilangkahkan ke depan, setelah kaki kiri menapak di tanah segera disusul dengan kaki kanan ditarik ke depan dan ditahan sebentar di sebelah mata kaki kiri, kemudian dilanjutkan ditatapkan kaki kanan di depan kaki kiri.
c) Gerakan selanjutnya melakukan gerakan-gerakan seperti semula.
Catatan :
· Dalam keadaan sedang berjalan, aba-aba adalah “langkah perlahan JALAN” yang diberikan pada waktu kaki kanan/kiri jatuh di tanah ditambah selangkah dan kemudian mulai berjalan dengan langkah perlahan.
· Tapak kaki pada saat menginjak tanah tidak dihentakkan, tetapi diletakkan rata-rata untuk lebih khidmat.
2) Berhenti dalam langkah perlahan
Aba-aba : Henti – GERAK
Pelaksanaannya :
E. LANGKAH KE SAMPING
Aba-aba : ……..Langkah ke kanan/kiri – JALAN
Pelaksanaannya :
Pada aba-aba pelaksanaan kaki kiri/kanan dilanjutkan ke samping kanan/kiri sepanjang 40 cm. Selanjutnya kaki kiri/kanan dirapatkan pada kaki kiri/kanan.Sikap badan tetap seperti pada sikap sempurna, sebanyak-banyaknya hanya boleh dilakukan empat langkah.
F. LANGKAH KE BELAKANG
Aba-aba : ……..Langkah ke belakang – JALAN
Pelaksanaannya :
Pada aba-aba pelaksanaan, peserta melangkah ke belakang mulai kaki kiri menurut panjangnya langkah dan sesuai dengan tempo yang telah ditentukan, menurut jumlah langkah yang diperintahkan. Lengan tidak boleh dilenggangkan dan sikap badan seperti dalam sikap sempurna. Sebanyka-banyaknya hanya boleh dilakukan empat langkah.
G. LANGKAH KE DEPAN
Aba-aba : …….Langkah ke depan – JALAN
Pelaksanaannya :
Pada aba-aba pelaksanaan, peserta melangkahkan kaki ke depan mulai dengan kaki kiri menurut panjangnya langkah dan tempat yang telah ditentukan, menurut jumlah langkah yang diperintahkan. Gerakan kaki seperti gerakan langkah tegap dan dihentikan dan sikap seperti sikap sempurna. Sebanyak-banyaknya hanya boleh dilakukan empat langkah.
H. LANGKAH DI WAKTU LARI
1) Dari sikap sempurna
Aba-aba : Lari maju – JALAN
Pelaksanaannya:
Aba-bab peringatan ke dua tangan dikepalkan dengan lemas dan diletakkan di pinggang sebelah depan dengan punggung tangan menghadap keluar, ke dua siku sedikit ke belakang, badan agak dicondongkan ke depan. Pada aba-aba pelaksanaan, dimulai lari dengan menghentakkan kaki kiri setengah langkah dan selanjutnya menurut panjang langkah dan tempo yang ditentukan dengan kaki diangkat secukupnya. Telapak kaki diletakkan dengan ujung telapak kaki terlebih dahulu, lengan dilenggangkan secara tidak kaku.
2) Dari langkah biasa
Aba-aba : Lari – JALAN
Pelaksanaannya:
Aba-aba peringatan pelaksanaannya sama dengan ayat 1. Aba-aba pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kiri/kanan jatuh ke tanah kemudian ditambah satu langkah, selanjutnya berlari menurut ketentuan yang ada.
3) Kembali ke langkah biasa
Aba-aba : Langkah biasa – JALAN
Pelaksanaannya :
Aba-aba pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kiri/kanan jatuh ke tanah ditambah tiga langkah, kemudian berjalan dengan langkah biasa, dimuali dengan kaki kiri dihentakkan; bersama dengan itu kedua lengan digenggam.
Catatan :
Untuk berhenti dari keadaan berlari aba-aba seperti langkah biasa henti – GERAK. Aba-aba pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kanan/kiri jatuh ke tanah ditambah tiga langkah, selanjutnya kaki dirapatkan kemudian kedua kepal tangan diturunkan untuk mengambil sikap sempurna.
I. LANGKAH MERDEKA
1) Dari langkah biasa
Aba-aba : Langkah merdeka – JALAN
Anggota berjalan bebas tanpa terikat pada ketentuan panjang, tempo dan ketentuan langkah. Atas pertimbangan Pimpinan, anggota dapat dijinkan untuk membuat sesuatu yang dalam keadaan lain terlarang (antara lain berbicara, buak topi, menghapus keringat). Langkah merdeka biasanya dilakukan untuk menempuh jalan jauh/diluar kota/lapangan yang tidak rata. Anggota tetap dilarang meninggalkan barisan.
2) Kembai ke langkah biasa
Untuk melaksanakan gerakan ini lebih dahulu harus diberikan ……………….samakn langkah. Setelah langkah barisan sama, Pemimpin dapat memberikan aba-aba peringatan dan pelaksanaan.
3) Aba-aba : Langkah biasa – JALAN
Pelaksanaannya :
Seperti tersebut pada petunjuk dari langkah tegap ke langkah biasa.
J. GANTI LANGKAH
Aba-aba : Ganti langkah – JALAN
Pelaksanaannya :
Gerakan dapat dilakukan pada waktu langkah biasa/tegap. Aba-aba pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kanan/kiri di tanah kemudian ditambah satu langkah. Sesudah ujung kaki kiri/kanan yang sedang di belakang dirapatkan pada badan. Untuk selanjutnya disesuaikan dengan langkah baru yang disamakan. Kemudian gerakan ini dilakukan dalam satu hitungan.
C.Simpul – Simpul
Pionering at`u Tali temali
Bidang Tali Temali
Dalam tali temali kita sering mencampuradukkan antara tali, simpul dan ikatan. Hal ini sebenarnya berbeda sama sekali. Tali adalah bendanya. Simpul adalah hubungan antara tali dengan tali. Ikatan adalah hubungan antara tali dengan benda lainnya, misal kayu, balok, bambu dan sebagainya.
Macam simpul dan kegunaannya
1. Simpul ujung tali
Gunanya agar tali pintalan pada ujung tali tidak mudah lepas
2. Simpul mati
Gunanya untuk menyambung 2 utas tali yang sama besar dan tidak licin
3. Simpul anyam
Gunanya untuk menyambung 2 utas tali yang tidak sama besarnya dan dalam keadaan kering
4. Simpul anyam berganda
Gunanya untuk menyambung 2 utas tali yang tidak sama besarnya dan dalam keadaan basah
5. Simpul erat
Gunanya untuk memendekkan tali tanpa pemotongan
6. Simpul kembar
Gunanya untuk menyambung 2 utas tali yang sama besarnya dan dalam keadaan licin
7. Simpul kursi
Gunanya untuk mengangkat atau menurunkan benda atau orang pingsan
8. Simpul penarik
Gunanya untuk menarik benda yang cukup besar
9. Simpul laso
Untuk gambar macam-macam simpul dapat dilihat di bawah ini

Macam Ikatan dan Kegunaannya
1. Ikatan pangkal
Gunanya untuk mengikatkan tali pada kayu atau tiang, akan tetapi ikatan pangkal ini dapat juga
digunakan untuk memulai suatu ikatan.
2. Ikatan tiang
Gunanya untuk mengikat sesuatu sehingga yang diikat masih dapat bergerak leluasa misalnya
untuk mengikat leher binatang supaya tidak tercekik.
3. Ikatan jangkar
Gunanya untuk mengikat jangkar atau benda lainnya yang berbentuk ring.
4. Ikatan tambat
Gunanya untuk menambatkan tali pada sesuatu tiang/kayu dengan erat, akan tetapi mudah untuk melepaskannya kembali. Ikatan tambat ini juga dipergunakan untuk menyeret balik dan bahkan ada juga dipergunakan untuk memulai suatu ikatan.
5. Ikatan tarik
Gunanya untuk menambatkan tali pengikat binatang pada suatu tiang, kemudian mudah untuk
membukanya kembali. Dapat juga untuk turun ke jurang atau pohon.
6. Ikatan turki
Gunanya untuk mengikat sapu lidi setangan leher
7. Ikatan palang
8. Ikatan canggah
9. Ikatan silang
10. Ikatan khaki tiga

0 Response to "MATERI PENGGALANG LENGKAP"
Post a Comment